Kamis, 26 Juni 2014

Berkarya dan Berceloteh dari Dapur #11 : Sup Jagung Daging


Bagi Azka, ibu adalah tempat ia mencari perasaan aman dan nyaman. Sementara ayah adalah teman bermain dan tertawa.

Beberapa kali hal di atas terlintas dibenak saya saat sedang meracik bumbu, di dapur. Dari dapur, kerap terdengar gelak tawa azka yang takputus bersebab dicandai oleh ayahnya. Saat saya berada dengan leluasa di dapur adalah saat azka sedang riang bermain dan tertawa dengan ayahnya, sampai  beberapa saat kemudian, terdengar suara azka memanggil saya, "eeeii... eeeii..." Itu artinya ia sudah mulai kepingin disusui. Di dalam pangkuan saya, azka meringkuk, melipat dirinya.

Azka sewaktu berusia 8,5 bulan

Azka sewaktu berusia 8,5 bulan


Salam,


Nanda


: Meski judul tulisan ini adalah nama masakan, namun sesungguhnya ini bukanlah tulisan yang memuat resep masakan. Sebab saya tidak sedang menciptakan resep. Saya hanya mempraktekkan resep yang sudah ada, dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kebutuhan, selera, dan ketersediaan bahan. Tulisan ini memuat celoteh saya tentang masakan yang saya bikin, hal-hal lain yang berkaitan, dan pikiran-pikiran lain yang berseliweran saat saya sedang memasak. Celotehan dari dapur. 


Berkarya dan Berceloteh dari Dapur #10 : Ketoprak





Sewaktu saya masih bekerja di Jakarta, ketoprak adalah salah satu makanan favorit saya untuk makan siang. Sampai-sampai pedagangnya hapal pesanan saya; dengan rawit lebih banyak dari takaran pedas pada umumnya dan bumbu yang lebih banyak pula. Makanan ini terbilang murah bila dibandingkan dengan makanan lain yang dijual di sekitarnya dan rasanya enak sekali. Saya tidak pernah bosan mencicipinya. Bersebab itulah, saya kepingin sesekali memasaknya. 

Ketoprak hasil bikinan saya rasanya masih kalah jauh dari ketoprak langganan saya itu. Apalagi membuatnya pun terburu-buru. Tapi takapa. Cukup meredakan kekangenan saya. Juga, saya jadi mengetahui bumbu apa saja dan cara meraciknya yang membuat rasa ketoprak itu menjadi khas dibandingkan dengan makanan lain berkuah kacang yang dari segi wujud nyaris serupa.

Salam,



Nanda

: Meski judul tulisan ini adalah nama masakan, namun sesungguhnya ini bukanlah tulisan yang memuat resep masakan. Sebab saya tidak sedang menciptakan resep. Saya hanya mempraktekkan resep yang sudah ada, dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kebutuhan, selera, dan ketersediaan bahan. Tulisan ini memuat celoteh saya tentang masakan yang saya bikin, hal-hal lain yang berkaitan, dan pikiran-pikiran lain yang berseliweran saat saya sedang memasak. Celotehan dari dapur.

Minggu, 22 Juni 2014

Berkarya dan Berceloteh dari Dapur #9 : Soto Kudus (lagi) dan Sebuah Pelajaran tentang "Menjadi"

ini porsi makan siapa ya? ^.^

Salah satu pelajaran yang telah hidup berikan pada saya adalah, manusia tidak pernah menjadi. Manusia selalu berproses untuk menjadi. Selalu berada di dalam prosesnya. Terus menerus berada di dalam proses. Takpernah menjadi. Kalaupun ia menjadi, hanya menjadi untuk sementara yang lantas masuk ke dalam sebuah proses kembali. “Menjadi” ibarat sebuah terminal atau stasiun atau bandara. Tempat untuk transit, sejenak beristirahat dari perjalanan sebelumnya, sejenak merayakan proses yang telah dilalui sebelumnya, sejenak menghembuskan napas lega, lalu setelah itu bergerak lagi, berjalan lagi, berproses lagi, hingga sampai pada terminal atau stasiun atau atau bandara berikutnya. Begitu seterusnya. 

Akan tetapi, uniknya, kebanyakan manusia begitu mendambakan sebuah akhir. Akhir dari proses. Akhir dari perjalanan. Pada akhir tersebut, ia membayangkan ia yang telah menjadi. “Menjadi” diumpamakan sebagai sebuah hadiah atas proses yang telah dilalui. Hadiah yang abadi. Akhir, dihayati sebagai tempat menggenangnya kebahagiaan. Demi mendapatkan “akhir” yang dikhayalkan, kebanyakan manusia rela bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian. Pikirnya, kelak ia akan abadi dalam kesenangan setelah beragam kesakitan telah dirasa. 

Lalu, ternyata, akhir yang didambakan takjua kunjung tiba. Pernah, pada suatu masa ia merasa ia telah menjadi. Ia pun menghembuskan napas lega. “Saatnya menikmati hasil dari jerih payah,” pikirnya. Alangkah kagetnya ia bahwa akhir yang dipikirnya abadi ternyata hanyalah sebuah persinggahan sementara. Ia tetap harus melanjutkan perjalanan, kembali berproses. Jika tidak, ia akan tenggelam di antara hiruk-pikuknya dunia. Ia yang telah ada perlahan akan redup dan musnah sama sekali. Ia pun terpaksa melanjutkan proses itu. Demi Menjadi. Pada kenyataannya ia takpernah kekal menjadi. Lalu, tiba-tiba ia merasa lelah sebab takjua menemukan ujung dari perjalanan. Demi mengejar untuk menjadi yang kekal, ia lupa bersenang-senang di dalam proses, lupa untuk menikmati proses. Ia pikir, “Ah, nanti saja, bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian.” Lalu, kelelahan, perasaan tertekan, kekecewaan,  perasaan gagal, mengerubutinya. “Begitu panjang perjalanan ini. Mengapa aku takjua sampai?” rintih batinnya. 

Sebaliknya, ia yang menyadari bahwa manusia takkan pernah kekal menjadi, mempersiapkan diri untuk menyongsong proses yang akan berlangsung abadi dalam kehidupan. Itu sebabnya, ia taklupa untuk tetap bergembira dalam menjalani proses. Itu sebabnya, ia memilih proses yang dicintainya sepenuh hati. Itu sebabnya, ia selalu menghargai tiap proses yang telah dilewatinya, meski hanya sebuah proses singkat. Ia takharus menunggu untuk sampai di tempat "transit" dulu untuk merayakannya. Ia merayakannya setiap saat, setiap selangkah proses yang telah dijalaninya. Baginya berproses adalah juga menjadi. Dengan begitu, ia menjadi setiap saat, selama ia tetap menjalani proses. 

Bersebab ia meyakini tak ada manusia yang menjadi, maka takada manusia bijak, menurutnya. Yang ada adalah manusia yang selalu berusaha untuk bijak. Takada manusia baik. Yang ada adalah manusia yang selalu berusaha untuk baik. Takada manusia yang pintar. Yang ada adalah manusia yang terus menerus berusaha mengasah keahliannya dalam satu atau beberapa hal. Takada manusia yang soleh. Yang ada adalah manusia yang terus menerus berupaya untuk taat pada aturan agama. 

Dalam menjalani sebuah proses, melakukan kesalahan adalah sebuah keniscayaan. Takada proses yang bebas dari kesalahan. Bersebab itu, ia yang memahami bahwa manusia takpernah menjadi, akan maklum jika manusia takpernah luput dari kesalahan, sampai kapan pun. Ia memaklumi akan banyak kesalahan yang dilakukannya saat sedang berproses, pun kesalahan yang dilakukan orang lain, sehingga ketika orang lain melakukan kesalahan, takkan keluar dari mulutnya kalimat seperti, “Katanya bijak, tapi kok…,” “Katanya baik, tapi kok…,” “Katanya pinter, tapi kok…,” Beragama tapi kok…,” “Berilmu tapi kok…,” dan kalimat lain yang sejenis. 

Ya, itu salah satu pelajaran yang saya dapatkan dari hidup. Bahwa manusia tidak pernah menjadi. Manusia selalu berada di dalam proses. “Menjadi” hanyalah sebuah persinggahan sementara. Berproses adalah sesuatu yang kekal dalam kehidupan. Aku berproses maka aku ada. Bersebab itu, mari merayakan proses.

Ah, ini adalah salah satu pikiran yang berseliweran dibenak saya ketika sedang memasak. Saya selalu begitu. Melakukan sesuatu sambil pikiran saya memikirkan hal lain.

Salam,


Nanda


: Meski judul tulisan ini adalah nama masakan, namun sesungguhnya ini bukanlah tulisan yang memuat resep masakan. Sebab saya tidak sedang menciptakan resep. Saya hanya mempraktekkan resep yang sudah ada, dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kebutuhan, selera, dan ketersediaan bahan. Tulisan ini memuat celoteh saya tentang masakan yang saya bikin, hal-hal lain yang berkaitan, dan pikiran-pikiran lain yang berseliweran saat saya sedang memasak. Celotehan dari dapur.

Selasa, 17 Juni 2014

Berkarya dan Berceloteh dari Dapur #8 : Soto Kudus

Rabu, 11 Juni 2014

Lebih nge-jreng piring-piringnya ketimbang masakannya, kwekwek :p *NgunyahPiring*


Dulu, saya heran melihat ibu saya, yang meskipun di meja makan banyak hidangan yang baru beliau masak, namun lebih memilih memakan hidangan kemarin yang diolah kembali. Atau, beliau memakan hidangan yang baru dimasak dengan porsi lebih sedikit dibanding yang dimakan anak-anaknya. Atau, mengambil bagian yang ia tahu tidak disukai oleh anak-anaknya. 

Selain heran, kadang saya merasa kasihan (apa ibu saya sedang tidak punya duit dan beliau sedang sangat berhemat) atau malah sebal (saya kan jadi sungkan untuk makan banyak sementara beliau yang bikin masakan ini malah hanya memakan secuil). 

Saya lupa pernah menanyakan hal ini atau belum. Tapi yang pasti, apa yang dilakukan ibu saya itu baru benar-benar saya pahami kemudian, saat saya telah memiliki anak, serta menjadi juru masak di dalam keluarga. 

Saat akan memasak, saya benar-benar berupaya menakar agar kuantitas makanan yang saya masak cukup untuk hari ini (tidak ada anggota keluarga yang merasa kekurangan makanan) dan juga bisa habis untuk hari ini; tidak bersisa sedikit pun. Jika ternyata jumlahnya kurang, maka saya harus memasak lagi. Sebaliknya, jika jumlahnya berlebih, maka akan ada makanan bersisa yang harus saya habiskan, esok harinya.

Untuk mengantisipasi agar saya tidak perlu memasak lagi, saya melakukan apa yang ibu saya pernah lakukan, mengambil makanan secukupnya saja, bahkan seminimal mungkin, agar suami dan anak saya bisa makan dengan puas. Sebaliknya, jika makanan berlebih, esoknya saya olah lagi agar bisa saya makan, meski saya paham makanan yang sudah beberapa kali diolah itu kurang sehat. Jika kejadiannya hanya sesekali, jumlah makanan berlebih itu tidak banyak, dan berupa sayuran, dengan berat hati saya akan membuangnya. Namun jika kejadian tersebut berulang kali dengan jumlah yang cukup banyak dan bukan berupa sayuran, dengan berat hati pula saya akan memakannya (kadang saya tawari juga pada suami saya).

Apa alasan saya melakukan hal yang sama  dengan apa yang dilakukan ibu? Sebab saya paham masih banyak orang-orang yang kekurangan makan. Sebab memasak itu (ternyata) tidak mudah, butuh waktu dan energi. Sebab saya jadi merasa takmenghargai hasil keringat suami saya.

“Kau tidak akan pernah bisa memahami sesorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”  -Harper Lee, dalam “To Kill A Mockingbird”

Ya, saya kini seorang ibu. Menjalani peran sebagai seorang ibu. Seperti ibu saya. Banyak sikap ibu yang baru saya pahami ketika saya menjadi ibu. Pemahaman itu datang seperti hujan yang tiba-tiba menderas.

Hari ini saya memasak soto kudus. Habis tanpa sisa. 

Salam,


Nanda
 

Berkarya dan Berceloteh dari Dapur #7 : Hati Ayam Bumbu dan Sambal Terasi

Selasa, 10 Juni 2014


Hari ini saya memasak hati Ayam bumbu dan sambal terasi. Bersebab ada sedikit kendala teknis, saya takbisa memotretnya. Tapi taksoal. Sebagai gantinya, saya pajang foto Azka (11 bulan) saja. Juga, bercerita tentang mpasi Azka saja.

Takterasa, sudah hampir enam bulan Azka menjalani mpasi. Sejauh ini, Azka belum pernah melakukan gerakan tutup mulut (GTM). Semua makanan yang disodorkan padanya pasti dimakan. Hanya porsinya saja yang berubah-ubah. Kalaupun tidak dimakannya, biasanya bersebab saya menyodorkannya pada waktu yang salah, saat ia mulai mengantuk. Jika sedang mengantuk, ia takmau makan dan minum apapun selain ASI.

Jika disodori makanan, biasanya, yang diambil pertama kali adalah sayur, lalu makanan berprotein hewani, terakhir baru makanan berkarbohidrat. Dugaan suami saya, bersebab warna-warni sayurlah yang menyebabkan Azka tertarik untuk terlebih dulu mengambil sayuran, ketika makan. Tapi ketika saya sodorkan sayur dengan warna takmenyolok pun, Azka tetap memprioritaskannya. 

Namun, selera makan bayi masih bisa berubah-ubah hingga ia berusia dua tahun. Boleh jadi makanan yang disukainya sekarang, beberapa bulan lagi justru menjadi makanan yang takpernah disentuhnya. Bersebab itu lah, hingga ia berusia dua tahun, saya berupaya membentuk pola makannya agar kelak ia condong pada makanan yang sehat, tidak semata enak.

Untuk pola mpasi Azka, saya menggunakan pola Food Combining (FC). Pola makan yang menekankan untuk selalu memakai bahan-bahan alami dalam membuat makanan bayi dan balita. Sasaran FC adalah terbentuknya imunitas yang baik sehingga anak tidak mudah sakit.

Beberapa aturan dalam FC untuk makanan anak selain menggunakan bahan alami adalah, menghindari pemakaian gula dan garam ataupun makanan olahan yang mengandung gula dan garam hingga anak berusia dua tahun, menghindari pemakaian bahan tambahan makanan sintetis, menghindari makanan berlemak tinggi seperti gorengan dan coklat olahan, menghindari pemakaian makanan awetan, menghindari makanan olahan pabrik, menghindari pemakaian tepung terigu, menghindari pemakaian susu sapi, mengkonsumsi sayur dan buah (jus buah manis pada pagi hari sebelum makan) setiap hari dengan porsi seimbang dengan protein hewani dan karbohidrat, dan memberikan makanan yang beragam agar gizi anak terpenuhi*.

Aturan ini seoptimal mungkin saya terapkan meski kadang situasi dan kondisi takmendukung. Rata-rata, aturan tersebut cukup mudah diterapkan, kecuali untuk bagian “memberikan makanan yang beragam”. Standar FC untuk makanan beragam dalam sehari dan setiap harinya cukup tinggi, yaitu setiap hari anak makan dengan menu berbeda, dan dalam sehari anak memakan dua menu makanan berbeda (untuk makanan utama). Standar ini cukup membuat saya kewalahan.

Akan tetapi, hasilnya cukup memuaskan, meski saya belum bisa seratus persen menerapkannya. Hingga saat ini (enam bulan masa mpasi dan hampir setahun usianya) Azka belum pernah batuk. Pernah satu kali pilek dengan kadar sangat-sangat ringan (selama dua hari), satu kali panas selama satu hari dan reda dengan sendirinya (bersamaan dengan tumbuhnya dua gigi baru), dan satu kali panas tinggi selama dua hari bersamaan dengan tumbuhnya empat gigi baru sekaligus.

Apalagi yang paling membahagiakan bagi seorang ibu selain anaknya sehat dan lincah, bukan?  

*Disimpulkan dari "Buku Super Lengkap: Makanan Bayi Sehat Alami", Wied Harry Apriadji


Salam, 



Nanda


Jumat, 13 Juni 2014

Berkarya dan Berceloteh dari Dapur #6 : Ayam Ungkep (lagi) dan Sambal Terasi

Senin, 09 Juni 2014





Takterasa kita sudah menginjakkan kaki dipertengahan Juni 2014. Padahal, rasanya baru kemarin saya mendengar suara terompet dan petasan bersahutan pada pukul dua belas malam lebih sedikit. Dua minggu lagi, bayi saya akan berusia satu tahun. Padahal, momen saat dan sedang melahirkan yang berlangsung hampir setahun lalu itu masih terekam jelas di benak.  tanggal 14 September 2014 nanti, genap dua tahun usia pernikahan saya. Padahal, Riuh dan bahagianya saat persiapan pernikahan masih terasa jejaknya di hati. Lalu, Awal Oktober 2014 ini, genap pula dua tahun saya tinggal di Kota Khatulistiwa ini. Padahal, repotnya mengemas barang saat pindahan dari Bandung ke Pontianak, masih kerap jadi bahan pembicaraan kami.

Waktu makin ahli berlari. Semakin menjadi pelari tangguh. Meninggalkan hari-hari. Membuat saya seperti taksempat menapak dulu, atau menarik napas dulu, dan meresapi hari satu demi satu. Rasanya, saya hanya melayang-layang saja dalam meniti hari. Terbang hari satu hari ke hari selanjutnya. Tak sempat ada jejak yang ditorehkan. Pagi dan malam seperti terpisahkan hanya oleh seutas benang.

Begitu cepatnya waktu berlalu, itu juga lah yang menjadi salah satu alasan saya menulis "berkarya dan berceloteh dari dapur" ini. Menyempatkan diri untuk menjejak, semampu mungkin.

Hari ini saya masak ayam ungkep, lagi. Azka menghabiskan tiga potong ayam hari ini.


Salam,


Nanda





Selasa, 10 Juni 2014

Berkarya dan Berceloteh dari Dapur #5 : Ayam Ungkep dan Sambal Dabu-Dabu

Minggu, 08 Juni 2014

gambar: dokumen pribadi


Hari ini adalah hari kedua saya memasak ayam ungkep. Kemarin pun, pada Sabtu, 07 Juni 2014, saya juga memasak masakan ini. Hanya saja, ayam ungkep yang dimasak kemarin memakai bumbu seadanya. Tidak lengkap. Rasanya tentu agak berbeda.  Selain itu, ketika sedang memasak, saya lupa mematikan kompor pada saat yang tepat bersebab sedang menyusui Azka. Ketika saya ingat dan bergegas ke dapur, bumbu ayam sudah nyaris gosong dan sisi ayam yang menyentuh dasar wajan pun ikut gosong. Tetapi tetap masih bisa dimakan. Rasa gosongnya pun belum sampai terasa pahit, seperti rasa ayam bakar.

Selama tiga hari berturut-turut menghadapi drama dalam memasak dengan kejadian yang berbeda-beda, membuat saya paham mengapa ada slogan yang berbunyi, "berita baik bukanlah berita". Ya, drama dalam memasak terasa sebagai bumbu penyedap dalam rangkaian cerita "berkarya dan berceloteh dari dapur" ini. Jika dari pertama memasak hingga saat ini saya selalu menghadapi hari yang baik, masakan yang sempurna, isi tulisan ini tentu hanya berkisar pada, "hari ini saya memasak ini, semua berjalan lancar, masakannya saya enak, anak dan suami saya makan dengan lahap." Selesai. Begitu saja terus-terusan. Itu sebabnya, media yang laris manis adalah media yang selalu dapat menyuguhkan "drama" bagi pemirsa atau pembacanya. Sebab kebanyakan masyarakat Indonesia menyukai "drama". Drama yang saya maksud di sini adalah berita yang bukan berita positif atau berita baik, cerita yang dramatis atau bisa didramatisasi.

Bumbu dalam memasak ayam ungkep ini cukup banyak. Ada beberapa bumbu yang tidak terbayang oleh saya bentuk fisiknya meski namanya cukup sering saya dengar. Salah satunya adalah jintan. Saya ber-"o" panjang ketika kakak pemilik warung memperlihatkan bentuk fisik jintan. "Seperti padi rusak," katanya. 

 Jintan yang sudah disangrai
 
gambar: dokumen pribadi  

Hal yang membuat saya bahagia hari ini adalah, Azka melahap nyaris empat potong ayam ukuran sedang. Dugaan saya, ia suka dengan bumbunya. Selain itu, hari ini saya memang tidak menyediakan cemilan untuknya, jadi ketika Azka bilang "mam", saya berikan lauk lengkap untuk dia makan. Saya sebenarnya tidak terlalu sering membikinkannya cemilan. Pada jam makan cemilannya, saya lebih sering memberikannya lauk lengkap tanpa nasi.

Bersebab Azka makan dengan lahap hari ini, saya jadi kepingin masak ayam ungkep lagi untuk besok.


Salam,



Nanda