Kamis, 01 Maret 2012

Asupan Jiwa



Tubuhku perlu asupan. Untuk apa? Agar aku memiliki energi. Dengan adanya energi itu aku dapat berpikir; berbuat, dengan maksimal. Ketika tubuhku tidak menerima asupan sebagaimana yang dibutuhkannya, ia akan terasa tidak fit, yang menyebabkan kemampuan berpikir dan berbuatku pun tidak maksimal.


Tubuhku terdiri dari jasad dan jiwa. Aku memakan makanan dan minum untuk asupan jasadku. Di dalam makanan yang kumakan, ada gizi yang diperlukan jasadku untuknya menjadi kuat. Sebagaimana jasadku, aku yakin jiwaku pun membutuhkan asupan yang jika kebutuhan itu tidak terpenuhi, ia akan melemah. Meskipun jasadku kuat bersebab asupan yang kuberikan padanya, namun jika jiwaku lemah bersebab aku takpernah memberikannya asupan, tetap saja kemampuan tubuhku untuk berpikir dan berbuat tidak akan maksimal. Sebaliknya, jika jasad dan jiwaku kuat, maka kemampuan berpikir dan berbuatku pun akan maksimal.


Sebagaimana banyak makanan yang dapat kupilih untuk memberikan kekuatan pada jasadku, ada banyak makanan pula yang dapat kupilih untuk memberikan kekuatan bagi jiwaku. Untuk asupan bagi jiwa, dengan kesadaran penuh aku memilih untuk ber-Tuhan dan dengan kesadaran penuh pula memilih cara atau jalan untuk menghamba pada-Nya. Dan akupun sadar sesadar-sadarnya, ada seperangkat aturan yang menyertai setiap jalan atau cara untuk menghamba (yang kerap disebut dengan ritual ibadah), pun cara yang kupilih (kecuali jika jalan atau cara itu aku ciptakan sendiri tanpa mengkaitkannya dengan jalan atau cara yang telah ada sebelumnya, dan menamainya dengan nama yang berbeda).


Aku memberikan asupan bagi jasadku agar aku dapat berpikir dan berbuat. Bagiku, hidup adalah soal berpikir dan berbuat. Jadi, aku makan dan minum untuk hidup. Bukan sebaliknya, yaitu hidup untuk makan. Begitupun, aku memberikan asupan bagi jiwaku agar aku dapat berpikir dan berbuat. Aku menghamba melalui seperangkat ritual ibadah agar aku bisa hidup. Bukan sebaliknya, yaitu aku hidup untuk melakukan seperangkat ritual ibadah. Aku hidup bukan untuk melakukan shalat, tilawah, puasa, dan ritual lainnya. Akan tetapi, aku shalat, tilawah, puasa, dan melakukan ritual lainnya agar aku memiliki energi untuk berpikir dan berbuat, agar aku memiliki energi untuk hidup.


Jumlah asupan yang aku dibutuhkan jasadku, bergantung sepenuhnya dari seberapa banyak aku ingin berpikir dan berbuat. Semakin banyak keinginanku untuk berpikir dan berbuat, semakin banyak pula jasadku membutuhkan asupan. Pun jiwaku. Semakin banyak keinginanku untuk berpikir dan berbuat, semakin banyak pula jiwaku membutuhkan asupan.


Dan sebaliknya. Ketika jasad tidak meminta terlalu banyak asupan, barangkali itu karena aku hanya sedikit berpikir dan berbuat. Pun jiwa. Ketika ia hanya meminta sedikit asupan, barangkali karena aku hanya sedikit berpikir dan berbuat. Ketika aku hanya membutuhkan shalat, tilawah, dan puasa hanya sekadarnya, barangkali itu bersebab aku baru sedikit berpikir dan berbuat. Ketika aku merasa nyaris tidak butuh shalat, puasa, tilawah, dan lainnya, barangkali itu bersebab aku sebenarnya masih sangat sedikit berpikir dan berbuat. Barangkali itu bersebab aku belum benar-benar hidup.


Ketika jasad telah cukup diberi asupan, memaksakan untuk tetap memberinya barangkali malah akan membuatku muntah karena kekenyangan. Barangkali malah akan membuatku kelebihan berat badan. Pun jiwa. Bila ia kelebihan diberikan asupan, barangkali seperangkat  ritual itu malah akan menjadi aktivitas yang memuakkan.


Namun ternyata, ada standar minimal ritual ibadah yang harus dilakukan untuk asupan jiwa. Ada shalat lima waktu, ada puasa di bulan ramadhan, ada kewajiban berzakat. Jika kebutuhanku untuk asupan jiwa ternyata tidak harus sebanyak itu, lalu mengapa ada standar minimal itu? Apakah itu berarti ada standar minimal pula yang harus kupenuhi dalam berpikir dan berbuat, agar asupan dan keluaran itu sama besarnya?


Muhammad. Ia banyak sekali memberikan asupan bagi jiwanya. Bahkan lebih banyak dari asupan untuk jasadnya. Barangkali itu karena ia membutuhkan banyak energi untuk berpikir dan berbuat. Apa yang ia pikirkan dan ia perbuat sehingga banyak sekali asupan jiwa yang dibutuhkannya? “Mewujudkan peradaban baru”. Sepemahamanku, itu tugas yang diletakkan di pundaknya. Sebuah tugas yang mungkin, kukira, menempatkannya pada kesadaran bahwa ia manusia lemah yang membutuhkan kekuatan besar di luar dirinya untuk mengemban tugas itu. Itulah mungkin yang membuatnya betah berlama-lama bermunajat di tengah malam, hingga kedua kakinya bengkak. Mengisi tangki jiwanya dengan energi penuh.


Ya, barangkali, ada standar minimal pula yang harus kupenuhi dalam berpikir dan berbuat, dimana hal itu akan menempatkanku pada kesadaran bahwa aku manusia lemah yang membutuhkan kekuatan besar di luar diriku untuk mengemban tugas itu,  agar standar minimal asupan jiwa itu kurasakan sebagai kebutuhan.


Barangkali, itu adalah jawaban dari pertanyaan, “apa tujuanNya menciptakanku?”



Salam,


Nanda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar