Jumat, 06 Juli 2012

Pilih Mana, Ta-i atau Emas?



Salah seorang pengusaha di Indonesia, ketika diwawancara mengenai kiat-kiat agar produk/jasa yang dijual dapat laku di pasaran, pernah berkata, “Kalau pasar minta ta-i, ya kasih ta-i aja, ngga perlu dikasih emas. Karena kalau dikasih emas, ya ngga akan laku, sebab mereka ngga tau atau belum tau bahwa emas itu berharga. Kalau kita jual ta-i aja laku, ngapain repot-repot bikin emas.” Adapun yang dimaksud dengan pasar di sini adalah masyarakat Indonesia. Dalam pernyataan pengusaha tersebut di atas, kata ta-i mewakili produk/jasa yang tidak berkualitas namun digandrungi masyarakat, sementara kata emas mewakili produk/jasa yang berkualitas namun tidak diminati oleh masyarakat oleh sebab masyarakat tidak/belum memahami nilainya. Saya yang tengah mendengar rekaman wawancara antara teman saya dengan pengusaha yang memang cukup kontroversial itu—beberapa tahun silam, saat saya bekerja sebagai reporter di salah satu majalah wirausaha—cukup kaget dengan pernyataannya, sehingga masih terngiang sampai sekarang.  


Barangkali, itulah jawaban dari pertanyaan “mengapa kondisi musik Indonesia saat ini begitu memprihatinkan,” yang terlontar pada kegiatan KlabKlassik¹, Minggu, 24 Juni 2012 lalu, yang kebetulan saya hadiri. Saat itu, klabklasik sedang menggelar edisi playlist², mengangkat tema “Musik Indonesia abad 21”. Meski tidak terlalu memahami dunia musik, saya cukup familiar dengan pertanyaan tersebut—pertanyaan yang lalu mengingatkan saya akan pernyataan dari seorang pengusaha di Indonesia tentang ta-i dan emas—sebab, pertanyaan di atas tidak hanya bergaung dalam ranah musik saja, akan tetapi nyaris dalam segala ranah di Indonesia, ranah dimana para pelaku industri—yang sebagian dari mereka hanya berorientasi untuk mengenyangkan perut—dapat menghujamkan cengkeramannya. Sebab, untuk mempertahankan dan membesarkan kekuasaannya, mereka akan selalu memburu bahkan menciptakan peluang, dimana pun.


Membuat ta-i tentu jauh lebih mudah dan murah daripada membuat emas. Ta-i dapat dihasilkan oleh siapapun dan dengan bahan dasar apapun. Pembuatannya pun simpel: cepat, tidak membutuhkan ketekunan dan kerja keras. Sedangkan emas, selain bahan dasarnya mahal, untuk menghasilkannya (menyulapnya menjadi bentuk-bentuk yang lain) diperlukan sejumlah proses, sejumlah sdm yang ahli dalam bidangnya, dan sejumlah peralatan yang menunjang.  Pembuatannya pun kompleks:  membutuhkan waktu, ketekunan, dan kerja keras. Nah, apabila ta-i saja bisa laku di pasaran, bahkan lebih laku keras bila dibandingkan dengan emas, hal ini tentu menjadi godaan besar bagi sejumlah orang yang ingin meraup untung banyak dengan cepat serta takingin repot, untuk lebih memasarkan ta-i ketimbang emas.


Dalam dunia entertain misalnya, untuk membuat satu bahkan beberapa episode sinetron kejar tayang bisa dilakukan hanya dalam satu hari, dengan menggunakan bangunan yang sama untuk setiap pengambilan gambar dengan latar yang berbeda (latar di rumah sakit, rumah, sekolah, dan halaman bisa menggunakan bangunan yang sama dengan sedikit sulapan”). Sang artis tidak perlu sangat jago berakting, yang penting secara fisik enak untuk dilihat. Pasarnya pun jelas. Sebagian besar masyarakat Indonesia, mulai anak sekolah (bahkan keponakan saya yang berusia empat tahun saja sangat khusyu bila menonton sinetron) hingga ibu-ibu, menyukai sinetron. Sementara, untuk membuat film berkualitas dengan durasi yang hanya dua jam bahkan kurang, dibutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan bisa berbulan-bulan, tempat pengambilan gambar yang berpindah-pindah sesuai dengan kebutuhan untuk latar, para pemain dituntut untuk maksimal dalam berakting, biaya yang besar, namun belum tentu laku di pasaran. Oleh sebab itu, tentu saja, membikin sinetron lebih menerbitkan air liur sebagian produser ketimbang membikin film berkualitas.


Kata peluang adalah kata "suci" bagi para pelaku industri. Karena itu kita sering mendengar frase membaca peluang, memburu peluang, menangkap peluang, hingga menciptakan peluang. Dalam hal membaca, memburu, dan menangkap peluang, pelaku adalah pihak yang menunggu bola. Sementara dalam hal menciptakan peluang, pelaku adalah pihak yang menjemput bola. Menjemput sesuatu tentu akan lebih cepat mendatangkan hasil dibanding dengan menunggu sesuatu itu ada dulu, baru kemudian ditangkap atau diburu. Boleh dikatakan, pelaku industri yang mampu menjemput peluang dengan menciptakan peluang akan lebih unggul dibandingkan dengan pelaku industri yang hanya menunggu bola. Oleh sebab itu, saat ini, para pelaku industri tengah berlomba-lomba dalam menciptakan peluang. Untuk apa? Tentu saja, uud (ujung-ujungnya duit).


Salah satu wujud dari menciptakan peluang itu misalnya, untuk segmen remaja, pelaku industri  “mengedukasi” masyarakat berusia di bawah dua puluh tahunan itu, sedemikian rupa, melalui berbagai media, sehingga pada akhirnya mereka menyukai boys band dan girls band bersuara pas-pasan, namun punya tampang dan berkaki indah. Sedemikian rupa, anggota boys dan girls band itu diekspos di media cetak maupun elektronik, wajah dan style mereka disulap semenarik mungkin sehingga menjadi idola para remaja. Tentu saja, selera masyarakat yang telah dibentuk sedemikian rupa itu akan terus diupayakan untuk dipertahankan agar mereka tetap bisa meraup keuntungan dari kondisi tersebut.


Contoh lainnya adalah, masyarakat perempuan terus menerus “diedukasi” melalui tayangan iklan dan melalui penampilan sejumlah artis dalam media cetak maupun elektonik bahwa perempuan cantik dan menarik itu adalah perempuan berkulit putih, sehingga perempuan yang berkulit tidak putih merasa dirinya tidak cantik dan tidak menarik. Sementara, di negara beriklim tropis ini tentu saja lebih banyak perempuan berkulit tidak putih ketimbang sebaliknya. Nah, perempuan yang memiliki kulit tidak putih yang merasa minder dengan kulitnya karena pengaruh “edukasi” tersebut, yang jumlahnya banyak di Indonesia inilah yang akhirnya menjadi sasaran empuk industri kosmetika yang mengklaim produknya dapat memutihkan. Agar produk kosmetika itu tetap laku, maka pemikiran “perempuan cantik dan menarik itu adalah perempuan berkulit putih” takboleh hilang dari benak masyarakat. Seingat saya, sejak saya kecil hingga sekarang, kampanye itu masih tetap dilakukan di berbagai media.
 

Begitulah. Meski saya pun masih tetap percaya bahwa tidak semua para pelaku industri berperilaku demikian, namun di sisi lain, saya juga percaya bahwa para pelaku industri yang hanya memikirkan perutnya saja tanpa sedikitpun prihatin terhadap kondisi masyarakat yang semakin menyukai ta-i dan semakin takmemahami nilai emas—baik yang bisnisnya berskala kecil maupun besar—tetap lebih mendominasi.


Bagaimanapun juga, hanya prihatin terhadap segala kondisi yang ada tanpa berbuat apapun, atau hanya sekedar mencaci-caci para pelaku industri yang tidak bertanggung jawab itu dalam ruang diskusi tanpa ada aksi konkrit lebih lanjut, tetap saja tidak akan mengubah apapun. Idealnya, tentu saja, rasa prihatin itu pada akhirnya mendorong kita untuk bergerak melakukan sesuatu—apapun itu—yang mengarah pada tujuan agar masyarakat Indonesia menyadari bahwa emas lebih berharga daripada ta-i. Akan tetapi, timbul pertanyaan, apakah mungkin untuk mengedukasi masyarakat yang jumlahnya ratusan juta yang sudah kadung beranggapan bahwa ta-i lebih berharga ketimbang emas


Saya pernah membaca seri autobiografi Dave Pelzer yaitu, A Child Called It, The Lost Boy, dan A Man Named Dave. Secara singkat, ketiga buku itu bercerita tentang Dave yang sejak kecil disiksa oleh ibunya, baik secara fisik maupun psikis (dengan perkataan yang menyakitkan) yang disebut oleh sang ibu sebagai, begitulah caranya mendidik. Disinyalir, perlakuan sang ibu tersebut—meski tidak terhadap semua anaknya seperti itu—juga merupakan pola asuh yang diterimanya dari orang tuanya. Hingga pada suatu titik, Dave menyadari, bila ia tidak secara sadar memutuskan “rantai pola asuh yang menyiksa” itu, kelak ketika ia telah berkeluarga dan memiliki anak, salah seorang atau beberapa orang anaknya juga akan menerima pola asuh yang sama darinya. Bila semasa kecil ia sering mendapatkan perkataan yang menyakitkan dari ibunya, secara naluriah perkataan-perkataan yang pernah diterimanya itu akan terucapkan pula kepada anaknya. Dave pun bertekad tidak ingin anaknya kelak mengalami apa yang pernah dialaminya, meski diakuinya itu sulit, sebab trauma masa lalu itu begitu membekas.


Lalu, Apa kaitan antara cerita Dave dalam trilogi tersebut dengan dongeng saya sebelumnya?  


Tidak terlalu berkorelasi memang, namun mungkin kita bisa dan patut menerapkan tindakan Dave dalam upaya memutus “rantai pola asuh yang menyiksa”nya. Barangkali, kita bisa memutuskan dengan tegas untuk tidak ikut-ikutan menjadikan materi maupun kekuasaan sebagai hal paling berharga dalam hidup sehingga menjadi motif utama atas setiap tindakan yang kita lakukan tanpa mempedulikan masyarakat banyak yang dirugikan secara moral maupun mental, lalu bertekad kelak akan mengajari anak-anak kita tujuan hidup yang berbeda. Untuk menyadarkan sebagian masyarakat yang sudah kadung menjadi pelaku dan boneka industri, boleh jadi adalah hal yang nyaris sia-sia. Namun, mengajari anak-anak kita tujuan hidup yang berbeda dari masyarakat kebanyakan, adalah hal yang sangat mungkin untuk dilakukan. Harapannya, tentu, kelak, mereka akan terus dan terus mewarisi cita-cita itu hingga suatu saat akan terbentuk masyarakat yang benar-benar memahami nilai emas, meski saat itu (mungkin) kita taklagi dapat menyaksikan. []



Salam,



Nanda



¹Komunitas dan ruang apresiasi musik klasik di Bandung
²Salah satu kegiatan rutin KlabKlassik dimana peserta diskusi masing-masing membawa sebuah   playlist sesuai tema, yang akan didengarkan dan diapresiasi bersama.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar