Kamis, 23 Mei 2013

Air Kacang Hijau


Saat ini, setiap pagi aku rutin minum air kacang hijau. Bukan air kacang hijau instan dalam kemasan, tentunya, tetapi dimasak sendiri. Para ibu bilang, air kacang hijau sangat bagus untuk pertumbuhan janin. Khasiat utamanya, ketika lahir, tubuh bayi akan berat dan padat namun tidak besar. Tubuh bayi yang tidak besar akan mempermudah kelahiran; memudahkan bayi untuk keluar dari jalur lahirnya. Tambahan pula, tubuh yang padat biasanya adalah tubuh yang kuat. Khasiat lainnya, air kacang hijau dapat memperlebat rambut bayi.

Sepertinya, resep ini dipercaya oleh para ibu di Indonesia, mulai dari mamaku, para tante, dan teman sejawat beliau  yang notabene orang Minang, hingga mama mertua, kerabat, dan tetangga beliau  yang notabene orang Jawa Timur. Semuanya satu suara dalam hal ini. Agaknya, resep ini sudah diterapkan turun temurun di berbagai daerah dan saat diterapkan, khasiatnya selalu teruji. 

Ketika diminta rutin meminumnya, aku menurut saja tanpa merasa perlu googling untuk mencari kebenaran khasiatnya. Selain karena aku cukup suka dengan rasa dan aroma kacang hijau, toh juga tidak ada efek sampingnya. Maka, jadilah aku setiap hari merendam kira-kira dua genggam kacang hijau selama satu jam, lalu memasaknya hingga mendidih dengan api yang tidak terlalu besar. Air kacang hijau yang berkhasiat tinggi adalah air pada didihan pertama, sebelum kacang hijaunya mengempuk. 

Suatu pagi, mama mertuaku bilang kalau tetangga depan rumah memberi air kacang hijau. Ia memang setiap hari memasak kacang hijau untuk dijual (entah berupa bubur atau olahan makanan kacang hijau lainnya). Aku senang sekali sebab berarti hari ini aku terbebas dari kegiatan mengolah kacang hijau. Mengolahnya memang tidak sulit, akan tetapi tentu akan lebih menyenangkan jika tinggal meminumnya saja. Hari berikutnya, tetangga tersebut mengirimkan air kacang hijau kembali. Begitu seterusnya hingga saat ini. Akhirnya, setiap pagi aku minum air kacang hijau (sering) tanpa perlu mengolahnya terlebih dulu.

Apalah arti segelas air kacang hijau jika ditimbang dari taksiran harganya?  Dilihat sepintas, seperti sebuah pemberian remeh-temeh. Bila kebetulan sedang tidak ada yang membutuhkan air kacang hijau, tetangga itu biasanya membuangnya. Sesuatu yang mudah dibuang tentu bukanlah sesuatu yang tinggi nilainya. Biji kacang hijau pun bukanlah jenis bahan penganan yang mahal. 

Lalu, bagaimana dengan aku, orang yang menerima pemberian tersebut? Meski terlihat seperti pemberian yang remeh-temeh, namun tidak demikian perasaanku, sebagai si penerima. Justru sebaliknya, setiap hari aku menunggu kiriman itu datang, takberapa lama, air kacang hijau hangat itu menjalari kerongkonganku. Hangatnya menyamankan perut. Kadang aku meminumnya dalam keadaan dingin setelah didiamkan dikulkas. Dinginnya menyegarkan kerongkongan.

Ini tentang sebuah pemberian. Barangkali kadang kita sungkan memberikan sesuatu kepada orang lain ketika menurut kita hal itu tidak bernilai. Terlebih lagi jika orang tersebut kita duga sangat mampu untuk membelinya sendiri. Padahal bisa jadi tidak demikian. Dengan berbagai sebab, pemberian yang terlihat remeh-temeh, bisa sangat diterima orang lain dengan penuh kesyukuran. 

Salam,


Nanda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar