Kamis, 30 Mei 2013

Tengah Malam


Tengah malam, saya terbangun, melirik jam dinding yang tengah menunjuk angka dua. Saya memulihkan kesadaran sejenak, lalu duduk bersandarkan bantal. Masih agak mengantuk, namun jika saya teruskan tidur, tidak akan bisa. Hanya akan menghabiskan waktu untuk bolak-balik ke kiri dan ke kanan. Sambil duduk, saya mengatupkan mata. Cahaya lampu merembes melalui kelopak mata. Suara detik dan rintik hujan yang menumbuk atap, lalu jatuh ke daun bunga yang lebar di balik jendela kamar, terdengar bergantian. Kadang berkejaran. Saya beranjak menuju meja tulis , meneguk setengah isi gelas. Membuka pintu kamar menuju toilet, membasuh muka. 

Bangun di tengah malam, kadang hingga dua atau tiga kali, adalah rutinitas sejak kehamilan saya memasuki usia tujuh bulan. Tidak di sengaja. Terjadi begitu saja. Kadang saya terbangun begitu saja. Kadang terbangun oleh gerakan bayi saya yang tiba-tiba, seperti tendangan. Kadang oleh perut yang terasa memberat atau rasa pegal di pinggang dan pinggir punggung sebab terus-terusan miring ke satu arah. Kadang dada dan kerongkongan saya seperti di tekan sesuatu hingga sesak. Saya hanya bisa bertahan tidur satu setengah hingga tiga jam. Setelahnya pasti terbangun. Jika memutuskan untuk tidur lagi, satu setengah hingga tiga jam kemudian, saya pasti terbangun lagi. Sering menyisakan kantuk dan lemas di pagi hari. Tapi lama-lama, jadi terbiasa.

Jika terbangun, saya tidak berusaha untuk memaksakan tidur sebab tidak akan bisa. Jika saya tidur dalam keadaan tidak terlalu ngantuk, banyak sekali perasaan tidak nyaman yang saya sadari, terutama di sekitar perut dan pinggang. Jadi, saya memutuskan untuk melakukan aktivitas yang saya ingin saja, apa pun yang dapat dilakukan tengah malam, sambil menunggu kantuk menghampiri kembali. 

Suatu sore di hari minggu, adik saya menelepon. Tidak dalam rangka apa-apa. Jika sedang luang, ia biasanya menelepon saya atau keluarga yang lain. Saat itu ia sedang di rumah hanya berdua saja dengan anak bungsunya. Beberapa jenak bertukar cerita tentang polah anaknya, tentang kehamilan saya, ia lalu bertanya, apa saya sekarang sering terbangun di tengah malam. Saya mengiyakan dan menceritakan hal itu. Adik saya juga mengalami hal yang sama. Dari pengalamannya, bangun di tengah malam selama hampir tiga bulan menjelang kelahiran membuatnya tidak sulit lagi untuk harus sengaja bangun tengah malam saat bayinya lahir. Bayi baru lahir memang sering bangun tengah malam hingga beberapa waktu lamanya. 

Ia benar. Semua seperti sudah disiapkan sebelumnya, untuk menghadapi sesuatu yang akan terjadi kemudian. Seorang bayi lahir dalam keadaan takberdaya. Hanya diberi kemampuan menangis, mendengar, merasakan, dan mengisap. Untuk itu, ketika Tuhan menghendaki seorang bayi lahir ke dunia, Ia sudah melatih sang ibu sejak beberapa bulan sebelumnya, dengan berbagai macam latihan, untuk menjadi pendamping sang bayi kelak. Latihan bangun di tengah malam hanyalah salah satunya. 

Ya. Menjadi pendampingnya, pembimbingnya, hingga ia berdaya. 

Salam,


Nanda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar