Rabu, 29 Mei 2013

Sekolah Pertama


Selasa malam beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengikuti talkshow terakhir Ayah Edi, seorang praktisi pendidikan, di radio Smart fm. Tema talkshow adalah tentang “cinta” (saya lupa tema lengkapnya). Ayah Edi juga mengundang dua narasumber lain, salah satunya, Gede Prama, seorang spiritualist

Gede Prama mengatakan, “Cinta tidak selalu merupakan hubungan romantik. Dalam banyak hal (justru) adalah rasa sakit. Sebab kita sering harus merelakan sesuatu yang kita sukai agar dapat memberikan ruang pada yang kita cintai untuk bertumbuh sesuai dengan panggilannya.”

Saya lalu teringat dengan pernyataan seorang teman, beberapa tahun lalu,”Pernikahan sejatinya adalah sebuah tim. Tim yang sehat adalah ketika masing-masing orang di dalamnya punya kesadaran untuk meluruhkan setengah egonya.”  Teman saya menekankan, tidak lebih, tidak kurang. Jika lebih atau kurang, salah satu akan mendominasi dan yang lainnya selalu merasa menjadi korban. Kondisi tim tidak akan sehat. Pernikahan itu tidak akan berjalan sehat. Apalagi jika keduanya bertahan dengan seratus persen egonya. 

Ya. Saya sepakat. Pernikahan sejatinya adalah sebuah tim. Seperti ketika kita bergabung dalam sebuah organisasi. Seperti halnya ketika kita bekerja dalam perusahaan. Namun, dalam tim kerjasama biasa, jika taksepaham, kita bisa meninggalkan tim itu begitu saja. Atau, jika punya kekuasaan yang lebih, bisa dengan ringan mendepak salah satu anggota tim. 

Dalam pernikahan, kita takbisa meninggalkan tim atau mendepak salah satu anggota di dalamnya dengan seenaknya. Ikatan suami istri suatu saat mungkin bisa terputus. Akan tetapi, orang tua dan anak adalah tim seumur hidup, sebab ikatannya takkan dapat terputus. Jadi bagaimana pun, kita dipaksa untuk terus menghadapinya. 

Terlebih, tim kecil ini kita niatkan untuk langgeng seumur hidup. Sehingga, apa pun yang terjadi, ada usaha keras dan terus-menerus untuk mempertahankannya. Dengan cara apa? Ya dengan meluruhkan setengah ego itu tadi. Meluruhkan setengah ego. Bukan hal yang gampang, bukan. Tidak semua kehendak kita dapat terpenuhi bulat-bulat. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan. Ada komitmen yang harus terus dijaga. Ada waktu yang harus dialokasikan untuk mendengarkan dan memahami.  

Seperti yang diucapkan Gede Prama, ada kerelaan, ada pengorbanan, dengan tujuan memberikan ruang bertumbuh pada orang-orang yang kita cintai, yang (mungkin) akan menimbulkan rasa sakit. Beruntungnya, landasan dari pembentukan tim keluarga adalah cinta kasih. Barangkali, cinta yang akan sedikit meredakan rasa sakit itu. 

Akan tetapi, manusia memang takkan pernah menjadi bijak melalui kesenangan semata, bukan? Kualitas diri akan terus membaik justru ketika kita bertahan menghadapi dan menerima rasa sakit, menghadapi dan memberi ruang untuk berbagai kesulitan, bukan malah lari darinya atau memberontak. Memilih lari ataupun memberontak hanya akan menyebabkan kita berhenti bertumbuh. Lari akan membuat kita jadi manusia lemah, sementara memberontak, akan membuat kita jadi manusia keras. 

Anak adalah juga anggota tim. Ia memiliki hak untuk mendapatkan setengah egonya, juga memiliki kewajiban untuk meluruhkan setengah egonya. Di dalam keluarga lah, anak pertama kali belajar mengenai kerja sama tim; bekerja sama dengan orang lain. Orang tua yang mampu membentuk keluarga sebagai sebuah tim yang sehat akan memberikan banyak pembelajaran tentang kerja tim pada anak. Anak akan belajar mengemukakan pendapat dan belajar mendengarkan pendapat. Belajar menghargai kebutuhan orang lain, juga belajar bahwa kebutuhannya juga layak untuk dihargai. Belajar membuat dan menjalani kesepakatan. Belajar menjaga komitmen tim. Belajar untuk bertanggung jawab terhadap tugasnya. Belajar berbagi. Belajar bahwa tidak semua kehendaknya dapat terpenuhi utuh. Dan belajar banyak yang lainnya. 

Ya. Keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi anak.

Salam,


Nanda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar