Minggu, 22 Juni 2014

Berkarya dan Berceloteh dari Dapur #9 : Soto Kudus (lagi) dan Sebuah Pelajaran tentang "Menjadi"

ini porsi makan siapa ya? ^.^

Salah satu pelajaran yang telah hidup berikan pada saya adalah, manusia tidak pernah menjadi. Manusia selalu berproses untuk menjadi. Selalu berada di dalam prosesnya. Terus menerus berada di dalam proses. Takpernah menjadi. Kalaupun ia menjadi, hanya menjadi untuk sementara yang lantas masuk ke dalam sebuah proses kembali. “Menjadi” ibarat sebuah terminal atau stasiun atau bandara. Tempat untuk transit, sejenak beristirahat dari perjalanan sebelumnya, sejenak merayakan proses yang telah dilalui sebelumnya, sejenak menghembuskan napas lega, lalu setelah itu bergerak lagi, berjalan lagi, berproses lagi, hingga sampai pada terminal atau stasiun atau atau bandara berikutnya. Begitu seterusnya. 

Akan tetapi, uniknya, kebanyakan manusia begitu mendambakan sebuah akhir. Akhir dari proses. Akhir dari perjalanan. Pada akhir tersebut, ia membayangkan ia yang telah menjadi. “Menjadi” diumpamakan sebagai sebuah hadiah atas proses yang telah dilalui. Hadiah yang abadi. Akhir, dihayati sebagai tempat menggenangnya kebahagiaan. Demi mendapatkan “akhir” yang dikhayalkan, kebanyakan manusia rela bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian. Pikirnya, kelak ia akan abadi dalam kesenangan setelah beragam kesakitan telah dirasa. 

Lalu, ternyata, akhir yang didambakan takjua kunjung tiba. Pernah, pada suatu masa ia merasa ia telah menjadi. Ia pun menghembuskan napas lega. “Saatnya menikmati hasil dari jerih payah,” pikirnya. Alangkah kagetnya ia bahwa akhir yang dipikirnya abadi ternyata hanyalah sebuah persinggahan sementara. Ia tetap harus melanjutkan perjalanan, kembali berproses. Jika tidak, ia akan tenggelam di antara hiruk-pikuknya dunia. Ia yang telah ada perlahan akan redup dan musnah sama sekali. Ia pun terpaksa melanjutkan proses itu. Demi Menjadi. Pada kenyataannya ia takpernah kekal menjadi. Lalu, tiba-tiba ia merasa lelah sebab takjua menemukan ujung dari perjalanan. Demi mengejar untuk menjadi yang kekal, ia lupa bersenang-senang di dalam proses, lupa untuk menikmati proses. Ia pikir, “Ah, nanti saja, bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian.” Lalu, kelelahan, perasaan tertekan, kekecewaan,  perasaan gagal, mengerubutinya. “Begitu panjang perjalanan ini. Mengapa aku takjua sampai?” rintih batinnya. 

Sebaliknya, ia yang menyadari bahwa manusia takkan pernah kekal menjadi, mempersiapkan diri untuk menyongsong proses yang akan berlangsung abadi dalam kehidupan. Itu sebabnya, ia taklupa untuk tetap bergembira dalam menjalani proses. Itu sebabnya, ia memilih proses yang dicintainya sepenuh hati. Itu sebabnya, ia selalu menghargai tiap proses yang telah dilewatinya, meski hanya sebuah proses singkat. Ia takharus menunggu untuk sampai di tempat "transit" dulu untuk merayakannya. Ia merayakannya setiap saat, setiap selangkah proses yang telah dijalaninya. Baginya berproses adalah juga menjadi. Dengan begitu, ia menjadi setiap saat, selama ia tetap menjalani proses. 

Bersebab ia meyakini tak ada manusia yang menjadi, maka takada manusia bijak, menurutnya. Yang ada adalah manusia yang selalu berusaha untuk bijak. Takada manusia baik. Yang ada adalah manusia yang selalu berusaha untuk baik. Takada manusia yang pintar. Yang ada adalah manusia yang terus menerus berusaha mengasah keahliannya dalam satu atau beberapa hal. Takada manusia yang soleh. Yang ada adalah manusia yang terus menerus berupaya untuk taat pada aturan agama. 

Dalam menjalani sebuah proses, melakukan kesalahan adalah sebuah keniscayaan. Takada proses yang bebas dari kesalahan. Bersebab itu, ia yang memahami bahwa manusia takpernah menjadi, akan maklum jika manusia takpernah luput dari kesalahan, sampai kapan pun. Ia memaklumi akan banyak kesalahan yang dilakukannya saat sedang berproses, pun kesalahan yang dilakukan orang lain, sehingga ketika orang lain melakukan kesalahan, takkan keluar dari mulutnya kalimat seperti, “Katanya bijak, tapi kok…,” “Katanya baik, tapi kok…,” “Katanya pinter, tapi kok…,” Beragama tapi kok…,” “Berilmu tapi kok…,” dan kalimat lain yang sejenis. 

Ya, itu salah satu pelajaran yang saya dapatkan dari hidup. Bahwa manusia tidak pernah menjadi. Manusia selalu berada di dalam proses. “Menjadi” hanyalah sebuah persinggahan sementara. Berproses adalah sesuatu yang kekal dalam kehidupan. Aku berproses maka aku ada. Bersebab itu, mari merayakan proses.

Ah, ini adalah salah satu pikiran yang berseliweran dibenak saya ketika sedang memasak. Saya selalu begitu. Melakukan sesuatu sambil pikiran saya memikirkan hal lain.

Salam,


Nanda


: Meski judul tulisan ini adalah nama masakan, namun sesungguhnya ini bukanlah tulisan yang memuat resep masakan. Sebab saya tidak sedang menciptakan resep. Saya hanya mempraktekkan resep yang sudah ada, dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kebutuhan, selera, dan ketersediaan bahan. Tulisan ini memuat celoteh saya tentang masakan yang saya bikin, hal-hal lain yang berkaitan, dan pikiran-pikiran lain yang berseliweran saat saya sedang memasak. Celotehan dari dapur.

5 komentar:

  1. Mbak izin aku share di fan page gitajiwa ya. Bagus banget tulisan nya. Membantu mengingatkan tentang proses yang terua berlanjut.

    BalasHapus
  2. Keren tulisannya...betapa beruntungnya jiwa jiwa yg menyadari proses kehidupan. Salute

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak rina. Beruntungnya karena dengan menyadari itu selangkah kedepan menjadi damai.

      Hapus
    2. Mbak Rina: makasih mbak :)

      Mahotama: iya bener, dan jadi semangat untuk terus berproses berproses, berproses, hehee...

      Hapus